Sahabatku....
Jikalau engkau merasa gelisah dan was-was itu tandanya mulai ada rintangan dalam perjalanan ini. Tapi melangkahlah terus tanpa ragu-ragu. Pada awalnya kita dipandu oleh seseorang yang kita kenal. Namun pada gilirannya kita harus melangkah sendiri. Itu yang paripurna. Kepasrahan dalam penyerahan seutuhnya yang dilingkupi dengan kemurnian keyakinan membuat langkah kita semakin terasa geraknya. Bahkan gerak langkah itu pun semakin lama semakin lembut. Kelembutan langkah dan gerak itu hanyut di dalam thawaf. Maka siaplah kita untuk meningkat pada satu martabat di mana akan mengalir di situ sungai yang lebih lembut. Ingatlah kita mulai berjalan menuju ke wilayah alam rohani yang menakjubkan bagi kita sendiri. Maka di sini kita berpisah untuk jalan menuju jalan kita sendiri. Kita akan berbisik bahkan berkata-kata sendiri secara syahdu. Sebenarnya ada orang lain lagi yang mengawal kita ke jalan yang ini. Namun tidak semua orang bisa menemukan perjalanan sampai ke sini. Disinilah kita bisa menikmati hidangan yang lezat. Hanya engkau dan dia yang menemanimu yang menjalani kelezatan jalan ini. Jalani terus jangan sampai kalian akan bercerai seperti Khaidir dan Musa.
Jumat, 11 Desember 2009
Kamis, 10 Desember 2009
Perjalanan Spiritual
Saudaraku...
Yok... kita jalan. Sebenarnya perjalanan keliling dunia itu mudah saja. Dalam perjalanan itu apa saja bisa kita temui. Pada akhirnya kita menemukan diri kita sendiri. Lakukan perjalanan itu pada malam hari. Iya... sahabatku. Bisa menembus batas negeri manapun. Bisa kita negeri ke Saba sampai ke negeri Sulaiman. Bahkan bisa kita ikuti jejak Khaidir dan Iskandar Zulkarnain ataupun Khaidir dan Musa. Maka benarlah keajaiban Isra dan Mi'raj itu. Ajaib memang. Maka harus kita melewati perjalanan ini dengan bekal yang cukup. Khawatirnya kita harus berpisah seperti Khaidir dan Musa. Apa pasal? Atau Khaidir yang mendapat air kehidupan sedangkan Iskandar Zulkarnain hanya memiliki nama besar yang akan menguasai dunia. Sesuatu yang hilang adalah di mana tempat perpisahan Khaidir dan Musa dan di mana perjalanan akhir Khaidir dan Iskandar Zulkarnain. Oh.. rupanya kita harus cukup bekal dalam perjalanan ini. Lalu apa yang kita lakukan pada saat perjalanan thawaf. Thawaf sampai pada titik maksimal yaitu pada putaran yang ke tujuh. Adakah bekal yang dibawa pada saat itu? Bukan bekal yang kita isi dalam bag dari tanah air itu. Bukan. Lalu apa. Ya, itu... yang ditanya Khaidir kepada Kalijaga di Laut Jawa. Bahwa engkau ke Mekkah itu untuk apa. Karena Batitullah itu ada pada kamu. Pertemuan mereke dan pembicaraan spiritual mereka sangat santun layaknya antara seorang kakek dan seorang cucu. Walhasil Kalijaga menjadi seorang spiritualist sejati. Dalam perjalanan itu akan ditemui hal-hal, kejadian-kejadian, orang-orang dan suasana-suasana yang menakjubkan. Sebenarnya itupun tak perlu kita khawatir karena ada pada kita sendiri.
Maka ketika Musa pingsan di bukit Thursina saya yakin dia juga sudah pergi melewati sebuah perjalanan yang jau. Demikian juga Kalijaga yang duduk saja menjaga tongkat juga sudah berjalan ke mana-mana. Kalau mereka tidak berjalan mengapa mereka banyak tahu? Memang duduk dan pingsan itu suatu keadaan jasadi tetapi keberadaan kita diliputi oleh unsur spiritual. Ini kodrati yang harus dibuka. Supaya bekal kita menjadi cukup. Tenaga kita menjadi stabil dan tujuan kita tidak dibelokkan oleh angin dan badai.
Yok... kita jalan. Sebenarnya perjalanan keliling dunia itu mudah saja. Dalam perjalanan itu apa saja bisa kita temui. Pada akhirnya kita menemukan diri kita sendiri. Lakukan perjalanan itu pada malam hari. Iya... sahabatku. Bisa menembus batas negeri manapun. Bisa kita negeri ke Saba sampai ke negeri Sulaiman. Bahkan bisa kita ikuti jejak Khaidir dan Iskandar Zulkarnain ataupun Khaidir dan Musa. Maka benarlah keajaiban Isra dan Mi'raj itu. Ajaib memang. Maka harus kita melewati perjalanan ini dengan bekal yang cukup. Khawatirnya kita harus berpisah seperti Khaidir dan Musa. Apa pasal? Atau Khaidir yang mendapat air kehidupan sedangkan Iskandar Zulkarnain hanya memiliki nama besar yang akan menguasai dunia. Sesuatu yang hilang adalah di mana tempat perpisahan Khaidir dan Musa dan di mana perjalanan akhir Khaidir dan Iskandar Zulkarnain. Oh.. rupanya kita harus cukup bekal dalam perjalanan ini. Lalu apa yang kita lakukan pada saat perjalanan thawaf. Thawaf sampai pada titik maksimal yaitu pada putaran yang ke tujuh. Adakah bekal yang dibawa pada saat itu? Bukan bekal yang kita isi dalam bag dari tanah air itu. Bukan. Lalu apa. Ya, itu... yang ditanya Khaidir kepada Kalijaga di Laut Jawa. Bahwa engkau ke Mekkah itu untuk apa. Karena Batitullah itu ada pada kamu. Pertemuan mereke dan pembicaraan spiritual mereka sangat santun layaknya antara seorang kakek dan seorang cucu. Walhasil Kalijaga menjadi seorang spiritualist sejati. Dalam perjalanan itu akan ditemui hal-hal, kejadian-kejadian, orang-orang dan suasana-suasana yang menakjubkan. Sebenarnya itupun tak perlu kita khawatir karena ada pada kita sendiri.
Maka ketika Musa pingsan di bukit Thursina saya yakin dia juga sudah pergi melewati sebuah perjalanan yang jau. Demikian juga Kalijaga yang duduk saja menjaga tongkat juga sudah berjalan ke mana-mana. Kalau mereka tidak berjalan mengapa mereka banyak tahu? Memang duduk dan pingsan itu suatu keadaan jasadi tetapi keberadaan kita diliputi oleh unsur spiritual. Ini kodrati yang harus dibuka. Supaya bekal kita menjadi cukup. Tenaga kita menjadi stabil dan tujuan kita tidak dibelokkan oleh angin dan badai.
Selasa, 08 Desember 2009
my profile
Hello
Nama saya adalah Sarimin Adang. Saya asli bukan orang Jawa tetapi kenapa orang tua saya memberi nama itu. Saya juga asli bukan orang Sunda. Ada nama Adang di situ kan? Saya lahir di Kalabahi Alor NTT. Saya sering bilang NTT itu singkatan dari Nasib Tak Tentu. Sorry Ya. Tapi memang bagi saya begitu adanya. Soalnya tamat SD di Alor. SMPN 1 di Kalabahi hanya sampai kelas 2 semester 1 seterusnya pindah ke Bajawa Flores NTT. Tamat SMP N 1 Bajawa dan melanjutkan ke SMA N 1 Bajawa. Selanjutnya pindah lagi ke Kupang NTT. Tamat dari UNDANA 1997. Selanjutnya pindah lagi ke Tasikmalaya Jawa Barat. Masuk jurusan Pariwisata dan Perhotelan Institute Buana Tasikmalaya. Selesai di situ 1998. Saya kerja di Hotel Tyara Laza Ciamis Jawa Barat sampai tahun 1999. Lagi, pindah ke Batam. Masuk SMAN 5 Batam tahun 2002 sampai sekarang. Masuk UNRIKA tahun 2006 sampai sekarang. Allah always bless me forever. Heelo, kindly to support me to finish my PG in UM Kuala Lumpur. Keep faith. One day everything might be changed. To all I regard to be kindly better.
Nama saya adalah Sarimin Adang. Saya asli bukan orang Jawa tetapi kenapa orang tua saya memberi nama itu. Saya juga asli bukan orang Sunda. Ada nama Adang di situ kan? Saya lahir di Kalabahi Alor NTT. Saya sering bilang NTT itu singkatan dari Nasib Tak Tentu. Sorry Ya. Tapi memang bagi saya begitu adanya. Soalnya tamat SD di Alor. SMPN 1 di Kalabahi hanya sampai kelas 2 semester 1 seterusnya pindah ke Bajawa Flores NTT. Tamat SMP N 1 Bajawa dan melanjutkan ke SMA N 1 Bajawa. Selanjutnya pindah lagi ke Kupang NTT. Tamat dari UNDANA 1997. Selanjutnya pindah lagi ke Tasikmalaya Jawa Barat. Masuk jurusan Pariwisata dan Perhotelan Institute Buana Tasikmalaya. Selesai di situ 1998. Saya kerja di Hotel Tyara Laza Ciamis Jawa Barat sampai tahun 1999. Lagi, pindah ke Batam. Masuk SMAN 5 Batam tahun 2002 sampai sekarang. Masuk UNRIKA tahun 2006 sampai sekarang. Allah always bless me forever. Heelo, kindly to support me to finish my PG in UM Kuala Lumpur. Keep faith. One day everything might be changed. To all I regard to be kindly better.
Langganan:
Postingan (Atom)